Produksi PTPN IV Regional II Kebun Sei Kopas di Awal 2026 Capai 120.80 Persen Lampaui RKAP 

Share

Asahan, Alapalapnews.com– Produksi PTPN IV Regional II Kebun Sei Kopas melampaui target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) pada Januari 2026. Realisasi produksi tercatat mencapai 120,80 persen atau setara 6.262.070 kilogram.

Manajemen menyebut capaian tersebut sebagai hasil penerapan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) yang dilakukan sepanjang periode sebelumnya. Upaya itu mencakup penertiban panen, peningkatan infrastruktur kebun, serta penguatan motivasi dan apresiasi bagi pekerja.

Manajer PTPN IV Regional II Kebun Sei Kopas Dahniar Jonas Purba, melalui Asisten SDM dan Umum Hamzah Ali, mengatakan capaian awal tahun menjadi indikator efektivitas kebijakan operasional yang menekankan keseimbangan antara kuantitas dan mutu tandan buah segar (TBS).

“Capaian ini menjadi langkah awal. Tantangan ke depan tetap ada, sehingga perbaikan kinerja harus terus dijaga,” kata Dahniar dalam keterangan tertulisnya, Jumat (13/2/2026) kemarin.

Menurut Hamzah Ali, salah satu faktor penopang kinerja adalah perbaikan infrastruktur jalan kebun—mulai dari jalan primer, sekunder, hingga tersier—yang berdampak pada kelancaran proses muat dan angkut TBS. Perbaikan tersebut dinilai meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan potensi kehilangan produksi.

Selain aspek teknis, manajemen juga menerapkan skema apresiasi rutin bagi pemanen di setiap afdeling. Kebijakan ini ditujukan untuk membangun umpan balik positif antara manajemen dan karyawan serta menjaga konsistensi produktivitas.

Kolaborasi dengan Serikat Pekerja Perkebunan (SPBUN) turut disebut sebagai faktor pendukung. Ketua SPBUN Basis Kebun Sei Kopas Zailani Ariono menilai pencapaian Januari 2026 menunjukkan sinergi yang berjalan antara pekerja dan manajemen.

“SPBUN siap mendorong karyawan untuk mendukung upaya peningkatan kinerja dan produktivitas kebun,” ujarnya.

Manajemen PTPN IV Regional II Kebun Sei Kopas menyatakan capaian awal tahun ini akan dijadikan dasar untuk menjaga tren kinerja pada bulan – bulan berikutnya, di tengah tantangan operasional dan dinamika sektor perkebunan.

(Ady giok)


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *