Ritual 8 Syawal di Jepara, Lomban Jadi Simbol Syukur dan Harapan Nelayan

Share

Jepara | AlapalapNews.com – Tradisi Lomban kembali digelar meriah di pesisir pantai utara Ujungbatu, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, usai perayaan Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026. Ritual tahunan yang berlangsung setiap 8 Syawal ini tidak hanya menjadi pesta rakyat, tetapi juga sarat nilai spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun.

Tradisi Lomban merupakan salah satu ritus budaya masyarakat pesisir yang telah mengakar sejak abad ke-19. Catatan sejarah dalam jurnal Hindia Belanda Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie tahun 1868 hingga majalah Slompret Melayu tahun 1893 menunjukkan bahwa tradisi ini telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepara. Kini, Lomban bahkan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2020.

Puncak acara Lomban ditandai dengan prosesi larungan sesaji ke laut, berupa kepala kerbau dan berbagai ubo rampe lainnya. Prosesi ini dimaknai sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan dan kelimpahan rezeki bagi para nelayan.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, terdapat proses sakral yang kerap luput dari perhatian, yakni pembuatan perahu pembawa sesaji. Perahu ini dibuat dengan penuh kehati-hatian dan laku spiritual oleh Agus Mardiko (53), warga Ujungbatu yang dipercaya melanjutkan tradisi tersebut sejak 2005.

Sebelum memulai pembuatan perahu, Agus menjalani puasa selama tiga hari sebagai bentuk penyucian diri dan niat. Baginya, perahu ini bukan sekadar benda, melainkan simbol doa yang akan dihantarkan ke laut.

“Tidak hanya membuat perahu, tapi juga ada doa yang menyertainya,” ujarnya.

Perahu sepanjang 3,5 meter dengan lebar 90 sentimeter itu dibuat dari bahan-bahan yang sarat makna simbolik, seperti kain putih yang melambangkan kesucian, bambu apus sebagai simbol kekuatan, serta batang pisang raja yang menggambarkan kehidupan.

Perahu tersebut kemudian dihiasi ornamen merah putih dan diberi tulisan “Joyo Samudro”, sebuah harapan agar laut senantiasa membawa keberkahan.

Saat dilarung ke perairan sekitar Pulau Kelor, perahu itu tidak hanya membawa sesaji, tetapi juga menjadi simbol pelepasan segala keburukan serta penyerahan doa dan harapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Di tengah arus modernisasi, Tradisi Lomban tetap bertahan sebagai pengingat bahwa laut bagi masyarakat Jepara bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan juga ruang spiritual yang menyimpan makna mendalam.

Setiap tahun, perahu kecil itu kembali berlayar, mengantarkan doa-doa dari pesisir Jepara menuju samudra yang luas—sunyi, namun penuh harapan.

( Deni )


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *