HUT ke-81 TNI di Pati: Bukan Sekadar Seremoni, Amanat Panglima Soroti Ancaman Global hingga Tuntutan Modernisasi

Share

PATI |Alapalapnews.com — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Kabupaten Pati tidak berhenti pada seremoni pengibaran semangat kebangsaan. Di balik barisan pasukan yang rapi di halaman Makodim 0718/Pati, Senin (5/10/2026), terselip pesan tegas mengenai tantangan TNI menghadapi perubahan lingkungan strategis, tuntutan modernisasi pertahanan, hingga kewajiban menjaga kepercayaan rakyat.

 

 

Upacara yang berlangsung pukul 07.00–07.30 WIB di halaman Makodim 0718/Pati, Jalan Jenderal Sudirman No.79, Ngarus, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati, tersebut diikuti sekitar 180 peserta.

Arm Timotius Berlian Yogi Ananto, S.E., M.Han., bertindak sebagai Inspektur Upacara. Sementara Kapten Cke Wasis dipercaya sebagai Komandan Upacara dan Kapten Inf Kusmiyanto sebagai Perwira Upacara.

Rangkaian upacara berlangsung tertib, mulai dari laporan perwira upacara, penghormatan pasukan, laporan komandan upacara, mengheningkan cipta, pengucapan Sapta Marga, penyampaian amanat, Andhika Bhayangkari hingga penghormatan penutup.

Namun, pesan yang disampaikan dalam amanat menjadi bagian yang patut dicermati.

Kepercayaan rakyat disebut sebagai amanah

Dalam amanatnya, Inspektur Upacara menyampaikan penghargaan kepada seluruh prajurit dan Aparatur Sipil Negara (ASN) TNI di berbagai wilayah atas dedikasi, loyalitas, kerja keras, serta pengabdian kepada bangsa dan negara.

Kepercayaan masyarakat terhadap TNI juga ditempatkan sebagai amanah yang harus dijaga.

Pesannya jelas: kepercayaan publik bukanlah tujuan akhir, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan melalui pelaksanaan tugas yang profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Di tengah tuntutan tersebut, negara juga dinilai perlu terus memberikan dukungan terhadap TNI, termasuk melalui peningkatan kapasitas prajurit dan ASN serta modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).

Modernisasi, dalam konteks itu, bukan sekadar persoalan menambah peralatan pertahanan. Semakin besar kemampuan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.

Karena itu, peningkatan kemampuan harus berjalan beriringan dengan kompetensi, kesiapan operasional, serta pemenuhan kebutuhan sesuai bidang tugas masing-masing.

Ancaman tidak lagi sederhana

Amanat tersebut juga menyinggung perubahan lingkungan strategis global yang semakin dinamis.

Tingkat ketidakpastian global dinilai dapat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah maupun kepentingan nasional.

Ancaman terhadap wilayah dan kepentingan negara, termasuk dalam pengelolaan sumber daya nasional, tidak dapat dipandang sebagai persoalan sederhana.

Dalam situasi demikian, TNI dituntut tetap kokoh pada jati dirinya sekaligus memiliki arah pengabdian yang jelas.

Momentum HUT ke-81 kemudian ditekankan sebagai tonggak untuk memperteguh tekad menjaga persatuan, menegakkan kedaulatan, serta melindungi kekayaan Nusantara sebagai modal menuju Indonesia yang maju, adil dan makmur.

Lima prinsip “PRIMA” menjadi sorotan

Salah satu bagian penting dalam amanat tersebut adalah penekanan terhadap pedoman PRIMA sebagai arah pengabdian TNI.

Lima prinsip yang ditekankan meliputi Profesional, Responsif, Integratif, Modern, serta Inovatif dan Adaptif.

Prinsip profesional menuntut setiap prajurit menguasai tugas dan tanggung jawabnya, memelihara kemampuan melalui latihan yang sungguh-sungguh dan realistis, serta melaksanakan tugas dengan penuh integritas.

Sementara prinsip responsif menuntut kepekaan terhadap perubahan, kemampuan melakukan deteksi dini, serta keberanian bertindak secara cepat, tepat dan terukur demi kepentingan negara dan rakyat.

Pada aspek integratif, kekuatan TNI harus menjadi bagian dari kekuatan nasional dalam menjaga stabilitas, mengawal pembangunan dan mendukung terwujudnya Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur.

Adapun prinsip modern menuntut penguasaan terhadap alat dan teknologi pertahanan yang digunakan secara optimal serta terintegrasi.

Sedangkan prinsip inovatif dan adaptif menempatkan setiap penugasan sebagai pengalaman dan bahan pembelajaran untuk mengembangkan inovasi serta menyesuaikan doktrin, pendidikan, latihan dan kemampuan menghadapi ancaman yang terus berubah.

HUT ke-81 TNI diuji setelah seremoni berakhir

Pesan tersebut pada akhirnya membawa peringatan HUT ke-81 TNI pada satu pertanyaan penting: sejauh mana nilai PRIMA benar-benar diterjemahkan menjadi tindakan setelah upacara selesai?

Sebab, profesionalisme tidak berhenti pada barisan yang rapi. Responsivitas bukan sekadar jargon. Integrasi harus terlihat dalam sinergi dengan seluruh komponen bangsa. Modernisasi harus berujung pada peningkatan kemampuan nyata. Sementara inovasi dan adaptasi harus tercermin dalam cara menghadapi tantangan baru.

Dengan demikian, peringatan HUT ke-81 TNI di Pati tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan pengabdian institusi pertahanan negara, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kekuatan TNI pada akhirnya membutuhkan dukungan dan kepercayaan rakyat.

Upacara ditutup dalam keadaan aman, tertib dan terkendali.

Kini, setelah seremoni berakhir, tantangannya adalah memastikan pesan tentang profesionalisme, kesiapan, modernisasi dan kemanunggalan dengan rakyat benar-benar hadir dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.

TNI kuat bukan hanya karena persenjataan dan jumlah personel, tetapi juga karena profesionalisme, integritas dan kepercayaan rakyat yang berhasil dijaga.

(Deni s)


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!