AlapAlapNews.Com — Pasaman Barat, 10 Desember 2025. Setelah beberapa hari belakangan bupati Pasaman Barat memberikan ucapan selamat ulangtahun ditengah bencana yang menimpa Kabupaten Pasaman Barat, yang diupload oleh salah seorang ajudannya ke publik sehingga menuai kecaman dari aktivis mahasiswa. Kemarin, Senin (9/12) Yulianto kembali menunjukkan sikap yang kontroversi.
Ditengah sibuknya para relawan dan aparat penegak hukum, dan militer memberikan pemulihan terhadap daerah yang dia pimpin. Sosok Bupati Yulianto, S.H, M.H melantik setidaknya 7 pejabat yang akan membantunya menjalankan tugas pemerintahan.
Dengan keadaan yang masih porak poranda, dan beberapa korban yang masih belum ditemukan. Abdul Basit, selaku ketua dewan pendiri Asosiasi Mahasiswa Pemerhati Kebijakan Publik Indonesia, dan founther Gerakan Muda Pasbar turut menyoroti tindakan Bupati tersebut.
“Ditengah bencana yang begitu mencekam, tentunya sangat diluar moralitas jika seorang Bupati yang merupakan ayah dari satu daerah masih sempat-sempatnya melantik beberapa pejabat yang notabenya hanya serimonialitas dan dapat ditunda demi lebih memperhatikan nasib korban pasca bencana dan tindakan atas turut berduka terhadap beberapa korban yang belum ditemukan.” Ucap Basit saat memberikan keterangan di Simpang Empat, Selasa (10/12)
Lebih lanjut, Basit juga memberikan pandangan atas apa yang mestinya dilakukan seorang kepala daerah yang daerahnya sedang berduka.
“Sebelumnya saya juga bukan orang yang benci atas pribadi pemimpin Pasaman Barat, saya meng-apresiasi atas tindakan doa bersama yang dilakukan bersama beberapa pejabat dilokasi longsor pada Jumat lalu. Namun, sebagai seorang pemimpin yang seyogyanya menjadi contoh bagi masyarakat terutama generasi muda, Bupati Pasaman Barat; Bapak Yulianto harus memberikan hal yang lebih layak lagi dari pada sekedar berdoa. Kita bersyukur Pasaman Barat tidak separah daerah lainnya yang terdampak, namun yang namanya terdampak tentunya ada konsekuensi nilai kerugian; moril dan materil. Sebagai seorang Bupati, mestinya dia dapat memberikan solusi paling konkrit atas bencana ini.” Jelas Basit.
Ia juga memberikan pandangan atas kemungkinan goncangan sikologi korban, dan butuhnya rehabilitasi mental atas kejadian yang melanda Pasaman Barat.
“Selain dari pada Pemerintah harus sigap melaksanakan pendataan guna menentukan jenis kerusakan dan mengupayakan bantuan dari instansi terkait, pemerintah juga mestinya harus sanggup memberikan rehab mental terhadap korban bencana. Pasti, yang namanya kehilangan harta, orangtua, atau anak akan menggoncang sikologi korban, dan pemerintah sebagai pemilik kekuasaan bisa menggaet beberapa lembaga negeri atau swasta dalam hal ini, dengan harapan kita tidak terkesan abai atau tidak ada rasa empati terhadap korban.” Sambungnya
Basit juga memberi pandangan mengenai kinerja pemerintah selama kejadian bencana ini berlangsung.
“Seperti yang saya ungkapkan tadi, saya meng-apresiasi kinerja kepolisian, bapak bupati yang turut berdoa, bapak wabub yang sampai menggendong korban, DPRD juga tidak tidur dengan nyenyak, seluruhnya saya apresiasi. Saya juga tahu, pihak pemerintah gencar mencari bantuan, namun itu berbicara kewajiban kan memang tugasnya. Tapi Mahasiswa, lembaga swasta, dan aktivis menggalang dana serta menyalurkan langsung itu bukan kewajiban melainkan empati tinggi dan rasa sosial yang bagus. Jadi saya harapkan jangan terlalu dibenturkan-lah antara kewajiban penguasa dan empati para relawan. Jangan sedikit-sedikit rakyat mengkritik pemerintah mengenai moral justru dibentrok-kan dengan hal yang sudah diberikan pemerintah pula, sebab itu kewajiban bukan keluar dari kantongnya melainkan dari pajak rakyat. Coba saja mereka tidak digaji, apa mereka sanggup seperti yang dilakukan oleh mahasiswa, lembaga swasta, dan aktivis?” Tutup Basit, Selasa (10/13)
( TIM )


