PATI | AlapalapNews.com – Jalan Lingkar Selatan (Lkr Sel) Kabupaten Pati kembali dikepung asap tebal dari aktivitas pengolahan arang batok kelapa di wilayah Kebun, Desa Ngawen, Kecamatan Margorejo. Kepulan asap putih keabu-abuan yang membumbung dari lokasi pembakaran diduga kuat mengganggu jarak pandang pengendara dan membahayakan keselamatan lalu lintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan asap pekat kerap menutupi sebagian badan jalan, terutama saat angin bertiup ke arah timur. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang pengendara berkurang drastis hingga menyerupai kabut tebal. Bau menyengat pun tercium cukup kuat di sekitar lokasi.
Sejumlah pengendara mengaku resah. Mereka menilai kondisi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi memicu kecelakaan lalu lintas.
“Pemandangan sangat membahayakan, asap sampai menutupi jalan. Harusnya ada tindakan tegas sebelum terjadi korban,” ujar Supri, salah satu pengendara roda dua.
Warga sekitar menyebut persoalan ini bukan kejadian baru. Aktivitas pembakaran batok kelapa disebut telah berlangsung berulang kali tanpa perubahan signifikan dalam pengendalian asap. Dugaan pun mengarah pada lemahnya pengawasan dan belum optimalnya penerapan standar operasional produksi yang ramah lingkungan.
Jika benar aktivitas tersebut dilakukan dalam skala besar dan berdekatan dengan jalur strategis, maka muncul pertanyaan serius: apakah aspek perizinan, dokumen lingkungan, serta sistem pengendalian emisi telah dipenuhi sesuai ketentuan? Ataukah aktivitas industri rumahan ini berjalan tanpa kontrol memadai?
Ironisnya, Jalan Lingkar Selatan merupakan jalur vital dengan intensitas kendaraan cukup tinggi setiap hari. Ketika kepentingan usaha bersinggungan langsung dengan keselamatan publik, negara seharusnya hadir memastikan keseimbangan—bukan membiarkan potensi bahaya menggantung di udara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Tulus Budiharjo, menyatakan akan menindaklanjuti laporan masyarakat. Namun publik menanti langkah konkret, bukan sekadar peninjauan administratif. Evaluasi menyeluruh, termasuk kemungkinan relokasi atau penghentian sementara aktivitas jika terbukti membahayakan, dinilai menjadi opsi yang patut dipertimbangkan.
Sebab pada akhirnya, keselamatan pengguna jalan tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan produksi. Jangan sampai kepulan asap menjadi alarm yang diabaikan—hingga kecelakaan benar-benar terjadi.
( Dwi s )

