Tangerang, 26 Oktober 2026
Muhamad Bahriel Zamzami, Aktivis, menyampaikan keprihatinan dan kekecewaannya terhadap sikap sejumlah pihak yang diduga sebagai buzzer pemerintah, yang justru mengkritik masyarakat karena memposting ulang spanduk terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Menurut Bahriel, tindakan masyarakat yang menyebarluaskan kembali informasi mengenai karhutla merupakan bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup dan upaya membangun kesadaran publik mengenai persoalan yang masih menjadi perhatian bersama.
“Miris ketika masyarakat yang berusaha menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan justru mendapatkan kritik dan serangan.
Seharusnya, yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana kita bersama-sama mencari solusi terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan, bukan malah mempermasalahkan masyarakat yang menyampaikan kepeduliannya,” tegas Bahriel.
Ia menilai, kritik terhadap masyarakat yang memposting ulang spanduk karhutla perlu disikapi secara bijak. Dalam negara demokrasi, masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, mengkritik kebijakan, serta mengingatkan pemerintah terhadap persoalan lingkungan yang membutuhkan perhatian serius.
Bahriel juga menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukanlah persoalan keberpihakan politik semata.
Kebakaran hutan dan lahan merupakan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, keberlangsungan ekosistem, kualitas udara, serta kehidupan generasi mendatang.
“Jangan sampai ruang kritik masyarakat justru dipersempit oleh narasi yang menyudutkan. Kalau memang ada informasi yang tidak benar, silakan diluruskan dengan data dan fakta.
Tetapi jangan sampai masyarakat yang menyuarakan kepedulian terhadap karhutla malah dianggap sebagai pihak yang bermasalah,” ujarnya.
Bahriel menambahkan, pemerintah dan seluruh pihak yang memiliki kepentingan seharusnya membuka ruang dialog serta memberikan penjelasan yang transparan kepada masyarakat.
Kritik dan masukan publik semestinya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan, bukan alasan untuk membangun pertentangan antara masyarakat dan pemerintah.
Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan media sosial telah menjadi sarana penting bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi, membangun solidaritas, dan mengawasi persoalan publik.
Oleh karena itu, setiap pihak perlu mengedepankan etika komunikasi, menghormati perbedaan pendapat, serta menghindari tindakan yang dapat membungkam kepedulian masyarakat.
Bahriel menyampaikan bahwa Aktivis Greenpeace akan terus mendorong kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan hidup dan pentingnya penanganan karhutla secara serius.
“Lingkungan hidup adalah kepentingan bersama. Jangan jadikan kepedulian masyarakat sebagai sasaran kritik yang tidak substansial.
Pemerintah seharusnya hadir memberikan solusi, bukan membiarkan masyarakat yang peduli lingkungan justru saling dipertentangkan.
Kritik adalah bagian dari demokrasi, dan kepedulian terhadap lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama,” tutup Bahriel.
(RHP)


