Dari Daun Jadi Duit: Kambing Perah, Senjata Desa Lawan Stunting

Share

TANGERANG, AlapAlapnews.com— Upaya menekan angka stunting di Indonesia membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat bantuan jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan sumber pangan bergizi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Salah satu gagasan yang layak dikembangkan adalah peternakan kambing perah secara komunal di desa, dengan memanfaatkan potensi pakan hijauan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Gagasan tersebut disampaikan Agus Santoso, mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan pelaku sociopreneur, yang menilai peternakan kambing perah dapat dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ketahanan gizi, ketahanan ekonomi, dan ketahanan lingkungan desa.

Menurutnya, persoalan stunting tidak cukup hanya dijawab melalui program pemberian makanan tambahan (PMT), susu formula, vitamin, atau bantuan lainnya. Program tersebut tetap penting, namun desa juga membutuhkan model yang mampu berjalan secara berkelanjutan ketika bantuan pemerintah berakhir.

“Desa tidak harus selalu menunggu bantuan. Desa dapat memproduksi solusinya sendiri,” menjadi gagasan utama yang ditawarkan melalui konsep “Dari Daun Jadi Duit.”

Data SSGI 2023 mencatat prevalensi stunting balita di Indonesia masih berada pada angka 21,5 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan gizi, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), masih menjadi tantangan penting.

Dalam konteks tersebut, kambing perah dinilai memiliki potensi karena mampu menghasilkan susu secara rutin sekaligus memberikan nilai ekonomi dari hasil turunannya.

Salah satu jenis yang dapat dikembangkan adalah kambing Sapera, hasil persilangan kambing Saanen dengan kambing Peranakan Etawa (PE).

Dalam skema yang diusulkan, sebanyak 60 ekor indukan dikelola secara komunal. Dengan pengaturan reproduksi dan masa laktasi yang baik, sebagian induk dapat berada dalam periode produksi susu secara bergantian.

Jika rata-rata produksi mencapai sekitar tiga liter per ekor per hari pada induk yang sedang laktasi, maka secara teoritis produksi dapat mencapai puluhan liter susu per hari.

Dalam ilustrasi 60 liter susu per hari, jika dikemas dalam ukuran 100 mililiter, jumlahnya setara dengan sekitar 600 kemasan susu per hari atau sekitar 18.000 kemasan dalam 30 hari.

Produksi tersebut dapat diarahkan untuk mendukung program pemenuhan gizi balita dan ibu hamil di desa.

Namun, Agus menekankan bahwa keberhasilan model tersebut sangat bergantung pada kualitas bibit, manajemen reproduksi, kesehatan ternak, kecukupan pakan, serta penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan dalam proses pemerahan dan pengolahan susu.

Keunggulan kambing perah tidak berhenti pada produksi susu.

Kambing yang memiliki kualitas genetik dan reproduksi baik dapat menghasilkan keturunan yang berpotensi menjadi bibit. Jika dikelola secara konsisten, kelompok peternak bahkan dapat dikembangkan menjadi breeding centre atau pusat pembibitan kambing perah.

Sementara itu, kotoran kambing dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung pertanian desa.

Ternak yang sudah tidak produktif sebagai kambing perah juga dapat diarahkan untuk penggemukan sebagai kambing pedaging.

Dengan demikian, satu ekosistem peternakan dapat menghasilkan berbagai sumber nilai tambah: susu, bibit, ternak pedaging, dan pupuk organik.

“Anak kambing yang lahir menjadi aset yang terus berkembang. Kotoran menjadi pupuk, sementara susu menjadi produk pangan bergizi sekaligus sumber pendapatan,” demikian gagasan yang ditawarkan.

Salah satu alasan peternakan kambing perah dinilai cocok dikembangkan di desa adalah ketersediaan sumber pakan hijauan.

Rumput, kaliandra, indigofera, lamtoro, daun singkong, serta berbagai jenis hijauan lainnya dapat dikembangkan sebagai sumber pakan sesuai kebutuhan nutrisi ternak.

Pakan hijauan juga dapat diawetkan melalui teknik pengolahan yang tepat sehingga ketersediaannya dapat dipertahankan untuk menghadapi periode ketika hijauan sulit diperoleh.

Selain hijauan, bahan pakan dari hasil samping pertanian dan agroindustri, seperti dedak atau ampas tahu, juga dapat dimanfaatkan sesuai formulasi dan standar keamanan pakan.

Konsep tersebut kemudian melahirkan gagasan “kebun pakan desa.”

Lahan tidur, pekarangan, dan area yang sesuai dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman pakan. Dengan begitu, peternakan kambing tidak hanya menghasilkan susu, tetapi juga mendorong penghijauan dan menciptakan cadangan pakan secara mandiri.

Namun, penggunaan limbah makanan industri sebagai pakan harus dilakukan secara hati-hati dan hanya setelah melalui proses pengolahan serta memenuhi ketentuan keamanan pakan. Bahan yang sudah kedaluwarsa tidak otomatis aman untuk diberikan kepada ternak.

Agus melihat program peternakan kambing perah komunal sebagai sebuah sistem yang berpotensi membangun tiga ketahanan sekaligus.

1. Ketahanan Gizi

Susu yang dihasilkan dapat menjadi bagian dari upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya kelompok sasaran seperti balita dan ibu hamil.

Produksi susu yang dilakukan secara lokal memungkinkan desa memiliki sumber pangan bergizi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Tetapi, susu untuk balita dan ibu hamil harus dipastikan memenuhi standar kebersihan, keamanan, pengolahan, penyimpanan, serta pengawasan yang sesuai.

2. Ketahanan Ekonomi

Apabila produksi susu melebihi kebutuhan program gizi, kelebihannya dapat dikembangkan menjadi produk komersial.

BUMDes maupun koperasi dapat berperan dalam pengumpulan, pengolahan, pengemasan, dan pemasaran susu.

Produk turunannya juga dapat dikembangkan, termasuk bibit kambing perah, pupuk organik, dan pakan.

Dengan model tersebut, rantai ekonomi tidak berhenti pada kandang. Nilai tambah dapat terus berputar di lingkungan desa.

3. Ketahanan Lingkungan

Peternakan membutuhkan pakan, sementara pakan hijauan membutuhkan tanaman.

Artinya, pengembangan kambing perah dapat mendorong masyarakat menanam tanaman pakan di berbagai lahan yang sesuai.

Kotoran kambing juga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk pertanian.

Terbentuklah sebuah siklus sederhana:

Tanaman menjadi pakan, pakan menghasilkan susu, ternak menghasilkan pupuk, dan pupuk membantu tanaman kembali tumbuh.

Inilah yang disebut Agus sebagai konsep sociopreneurship berbasis desa.

Menurut Agus, pemerintah, BUMDes, dan koperasi tidak cukup hanya memberikan bantuan ternak.

Ada sedikitnya tiga hal yang harus berjalan secara bersamaan.

Pertama, penyediaan bibit unggul.

Program dapat diarahkan pada pengadaan kambing perah berkualitas yang dikelola secara kolektif, bukan sekadar dibagikan kepada individu tanpa sistem pengawasan.

Kedua, pendampingan teknis.

Peternak membutuhkan pelatihan mengenai breeding, kesehatan hewan, manajemen pakan, pemerahan higienis, pengolahan susu, hingga pencatatan produksi.

Ketiga, pasar dan hilirisasi.

Susu harus memiliki pasar yang jelas. BUMDes dan koperasi dapat menjadi penggerak hilirisasi agar susu tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Dengan demikian, bantuan pemerintah tidak berhenti pada penyerahan ternak, melainkan berkembang menjadi sistem usaha masyarakat desa.

Upaya mengatasi stunting membutuhkan kerja nyata dan berkelanjutan.

Program pemberian makanan tambahan tetap diperlukan sebagai bagian dari intervensi gizi. Namun, desa juga perlu didorong agar mempunyai sumber pangan dan sumber ekonomi yang dapat diproduksi secara mandiri.

Kandang kambing perah, apabila dikelola secara profesional dan terintegrasi dengan program gizi, dapat menjadi salah satu alternatif dalam membangun ekosistem tersebut.

Dari daun menjadi pakan. Dari pakan menjadi susu. Dari susu menjadi sumber gizi. Dari anak kambing menjadi aset. Dari kotoran menjadi pupuk. Dari pupuk kembali menjadi tanaman.

Inilah esensi dari konsep “Dari Daun Jadi Duit.”

Bukan sekadar membagikan bantuan, tetapi membangun kemampuan desa untuk menghasilkan pangan, menciptakan pendapatan, sekaligus menjaga lingkungan.

Sudah saatnya perang melawan stunting tidak berhenti di ruang rapat dan slide presentasi.

Saatnya desa memiliki model nyata yang bekerja setiap hari.

Dari daun menjadi susu kambing. Dari susu menjadi generasi yang lebih sehat. Dari kandang menjadi ekonomi. Dari desa untuk desa.

Itulah ketahanan pangan yang sesungguhnya.

Penulis: Pendi

Sumber : Agus Santoso
Mantan Staf Khusus Menteri Koperasi dan Pelaku Sociopreneur

Editor: Redaksi

 


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *