TANGERANG — Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia resmi memulai pembangunan pusat pendidikan Islam yang mengintegrasikan ilmu agama, dakwah, keterampilan, teknologi, dan kewirausahaan. Prosesi peletakan batu pertama berlangsung di Kampung Tapos Gardu RT 02/RW 01, Desa Tapos, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Ahad (13/9/2026).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan pelantikan Pimpinan Wilayah Ikatan Dai Muda Indonesia (PW IDMI) Provinsi Banten serta penyaluran santunan 100 paket kepada kaum dhuafa dari AirNav Indonesia.
Lebih dari 500 jamaah dan tamu undangan hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, TNI-Polri, ulama, dai, pengurus DKM, organisasi keagamaan, tokoh masyarakat hingga warga sekitar.
Bupati Tangerang dalam kegiatan tersebut diwakili Asisten Administrasi Umum (Asda III), Dr. Drs. H. A. F. Firzada Mahalli, S.E., M.Si. Hadir pula Camat Tigaraksa H. Cucu Abdurasyid, Kepala Desa Tapos Khaerudin, Ketua BPD Tapos Syahrudin, perwakilan kepolisian, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Forum DKM se-Citra Raya, PW IDMI DKI Jakarta, Laskar Al-Bahjah serta jajaran PW IDMI Banten.
Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia direncanakan berdiri di atas lahan seluas kurang lebih satu hektare di kawasan Tapos, Kecamatan Tigaraksa.
Sebagian lahan tersebut merupakan wakaf dari H. Darwoko, tokoh masyarakat sekaligus pengusaha kayu gaharu di Tapos. Wakaf tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun pusat pendidikan Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi pusat kaderisasi dai, pengembangan keterampilan dan pemberdayaan ekonomi umat.
Konsep pendidikan yang diusung Dai Preneur Indonesia berupaya memadukan kekuatan spiritual dengan kemandirian ekonomi. Para santri nantinya tidak hanya dibekali kemampuan membaca kitab, menghafal Al-Qur’an dan berdakwah, tetapi juga diarahkan memiliki kemampuan kepemimpinan, public speaking, literasi digital, kewirausahaan, pertanian hingga peternakan.
Dengan konsep tersebut, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi dai yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus keterampilan untuk menjawab tantangan kehidupan modern.
Pendiri sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia, KH. Syahrul Ramadhan, S.Ag., M.M. (Syahdan), mengatakan pembangunan pesantren tersebut lahir dari cita-cita menghadirkan model pendidikan Islam yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, pesantren masa depan tidak cukup hanya mencetak generasi yang memahami agama. Para santri juga perlu dipersiapkan agar memiliki kemampuan ekonomi, keterampilan dan keberanian untuk mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
“Kami bercita-cita melahirkan santri yang kuat imannya, luas ilmunya, baik akhlaknya, terampil berdakwah, melek teknologi, sekaligus memiliki jiwa entrepreneur. Kami ingin mereka kelak tidak hanya mampu berbicara tentang perubahan dari mimbar, tetapi juga mampu menciptakan perubahan di tengah masyarakat,” ujar KH. Syahdan.
Ia menegaskan, konsep Dai Preneur bukan dimaksudkan untuk menjadikan dakwah sebagai komoditas. Sebaliknya, konsep tersebut diarahkan untuk membangun kemandirian para dai agar pengabdian kepada umat semakin kuat.
“Dai harus memiliki kemandirian. Tangannya menengadah kepada Allah, tetapi dalam urusan kehidupan ia harus mampu bekerja, berkarya, dan memberdayakan umat. Karena itu kami membawa semangat: Iman Kuat, Skill Hebat, Hidup Selamat,” katanya.
KH. Syahdan berharap Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia nantinya berkembang menjadi pusat kaderisasi dai sekaligus pemberdayaan umat yang memberikan manfaat bagi santri dan masyarakat Kabupaten Tangerang serta Banten secara luas.
Sejumlah program unggulan juga telah dipersiapkan, antara lain tahfiz Al-Qur’an dan bahasa Arab, kajian kitab klasik, kepemimpinan dan public speaking, dakwah digital, kewirausahaan serta pengembangan pertanian dan peternakan sebagai laboratorium kemandirian ekonomi santri.
Nuansa sosial turut mewarnai kegiatan peletakan batu pertama tersebut. AirNav Indonesia menyalurkan santunan sebanyak 100 paket kepada kaum dhuafa.
Santunan tersebut disalurkan dalam rangkaian kegiatan peletakan batu pertama dan pelantikan PW IDMI Banten.
Bagi pengelola pesantren, kegiatan sosial tersebut menjadi simbol bahwa pembangunan Dai Preneur Indonesia sejak awal tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga membawa semangat kepedulian dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Keterlibatan pemerintah, dunia usaha, organisasi dakwah, tokoh masyarakat, para wakif, donatur serta masyarakat dinilai menjadi modal sosial penting untuk mendukung pembangunan pesantren secara berkelanjutan.
Momentum tersebut juga menjadi bagian dari pelantikan kepengurusan Pimpinan Wilayah Ikatan Dai Muda Indonesia (PW IDMI) Provinsi Banten.
Ketua Umum PW IDMI Banten, Ust. Hasan Al-Farizy, mengatakan kepengurusan yang baru dilantik akan fokus memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan kapasitas para dai agar mampu menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Menurut Hasan, tantangan dakwah saat ini tidak lagi hanya berada di mimbar dan majelis taklim. Perkembangan teknologi digital telah menghadirkan ruang baru yang harus dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan keislaman yang moderat, santun dan mencerahkan.
“Target kami setelah pelantikan bukan sekadar membesarkan organisasi, tetapi membesarkan manfaat. IDMI Banten harus hadir sampai ke masyarakat, memperkuat jaringan para dai, meningkatkan kompetensi dakwah, serta mendorong dai muda agar mampu berdakwah secara kreatif dan adaptif di era digital,” ujar Hasan.
PW IDMI Banten juga akan mendorong perluasan konsolidasi kepengurusan di tingkat kabupaten dan kota. Sinergi dengan pemerintah daerah, pesantren, DKM, majelis taklim, lembaga pendidikan dan organisasi keagamaan juga menjadi bagian dari agenda kepengurusan.
Hasan menegaskan, IDMI Banten ingin menjaga dakwah yang menyejukkan dengan semangat, “Bersatu dalam Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, Toleransi dalam Khilafiyah dan Furu’iyyah.”
Peletakan batu pertama menjadi penanda dimulainya perjalanan panjang Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia.
Bagi pengelola, momentum tersebut bukan sekadar awal pembangunan sebuah bangunan, tetapi menjadi simbol dimulainya ikhtiar membangun manusia melalui pendidikan, dakwah dan pemberdayaan ekonomi.
KH. Syahdan berharap pesantren tersebut kelak mampu melahirkan generasi dai yang tidak hanya fasih menyampaikan ajaran agama, tetapi juga mampu hadir membawa solusi atas berbagai persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.
“Kami tidak sedang bermimpi hanya membangun gedung. Kami sedang berikhtiar membangun manusia dan menyiapkan peradaban. Dari Tapos ini, insyaallah akan lahir para santri dan dai yang dekat dengan Allah, dekat dengan umat, mampu berkarya, dan mandiri dalam kehidupan,” tutur KH. Syahdan.
Dengan dukungan dan kolaborasi pemerintah, ulama, dunia usaha, organisasi dakwah, para wakif, donatur serta masyarakat, Pondok Pesantren Dai Preneur Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu model pesantren yang mengintegrasikan iman, ilmu, dakwah, teknologi dan kemandirian ekonomi.
Peletakan batu pertama pada 13 September 2026 pun menjadi titik awal sebuah cita-cita besar: dari Tapos membangun dai, dari pesantren memberdayakan umat, dan dari kemandirian ikut membangun negeri.
(Redaksi)


