Bob Fallah Aktivis Muda: Jangan Tunggu Ada Korban, K3 Galian PDAM Harus Jadi Prioritas

Share

TANGERANG,— Aktivitas pekerjaan galian jaringan PDAM di kawasan Jalan Raya Pajajaran, Gandasari, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Banten, menuai sorotan. Pasalnya, dalam pantauan di lokasi, sejumlah pekerja diduga belum menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) secara optimal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian aktivis muda Tangerang Raya, Bob Fallah. Ia mempertanyakan sejauh mana pengawasan terhadap keselamatan para pekerja dilakukan oleh pihak pelaksana proyek, terutama terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan keberadaan mandor di lapangan.

Bob menegaskan, pekerjaan galian memiliki risiko kecelakaan yang tidak dapat dianggap sepele. Karena itu, menurutnya, penggunaan APD seperti helm keselamatan, rompi, sarung tangan, serta sepatu pelindung seharusnya menjadi perhatian utama sebelum para pekerja menjalankan aktivitas di lapangan.

“Kalau memang para pekerja galian PDAM tersebut diduga mengabaikan K3, kemudian terjadi kecelakaan kerja, bahkan sampai ada korban meninggal dunia, siapa yang akan bertanggung jawab?” ujar Bob.

Ia mengaku prihatin setelah melihat kondisi di lokasi yang menurutnya menunjukkan dugaan minimnya penggunaan APD. Selain persoalan perlengkapan keselamatan, Bob juga mempertanyakan keberadaan mandor maupun pelaksana yang seharusnya melakukan pengawasan secara langsung terhadap aktivitas pekerjaan.

“Saya sangat miris kalau di lokasi pekerjaan tidak terlihat mandor atau pelaksananya. Seharusnya ada pengawas yang memastikan para pekerja menjalankan pekerjaan sesuai prosedur keselamatan. Jangan sampai keselamatan pekerja baru diperhatikan setelah terjadi kecelakaan,” tegasnya.

Menurut Bob, penerapan K3 bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan bentuk perlindungan terhadap pekerja dari potensi kecelakaan maupun risiko keselamatan lainnya. Terlebih pekerjaan galian dilakukan di kawasan jalan yang juga berpotensi menimbulkan risiko bagi pengguna jalan dan masyarakat sekitar.

Dalam penelusuran di lokasi, kami sempat menemui salah seorang pekerja untuk meminta penjelasan mengenai dugaan minimnya penggunaan APD. Ketika ditanya alasan tidak menggunakan perlengkapan keselamatan secara lengkap, pekerja tersebut tidak memberikan jawaban.

“Mas, mengapa tidak memakai APD?” tanya awak media.

Pekerja tersebut memilih diam dan tidak memberikan keterangan.

Kami kemudian menanyakan mengenai keberadaan mandor yang bertanggung jawab melakukan pengawasan pekerjaan.

“Dan mandornya mana?” Tanya kami

“Tidak mengetahui,” Cetus jawab pekerja dengan singkat.

Jawaban tersebut semakin menimbulkan pertanyaan mengenai mekanisme pengawasan di lokasi pekerjaan. Apalagi, aspek keselamatan seharusnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan pekerjaan yang memiliki potensi risiko kecelakaan.

Bob pun meminta pihak yang bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut tidak mengabaikan persoalan K3. Ia mendorong agar dilakukan evaluasi langsung terhadap kondisi di lapangan, termasuk memastikan seluruh pekerja mendapatkan dan menggunakan APD sesuai kebutuhan serta memastikan adanya pengawasan yang jelas.

“Jangan sampai persoalan K3 dianggap sepele. Keselamatan manusia harus menjadi prioritas. Kalau terjadi kecelakaan, jangan baru saling mencari siapa yang bertanggung jawab,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak pelaksana pekerjaan maupun PDAM terkait dugaan minimnya APD, keberadaan mandor, serta penerapan standar K3 di lokasi tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan berdasarkan kondisi sebenarnya di lapangan.

(Redaksi)

 


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *