Tanpa Agenda,Diskusi Santai di Pasar Swadaya Sangiang Jaya Jadi Ruang Berbagi Ilmu dan Gagasan ‎

Share

TANGERANG, – Menikmati secangkir kopi di sore hari terasa semakin bermakna ketika dibarengi obrolan hangat, bertukar pikiran, dan mempererat tali silaturahmi. Suasana inilah yang kerap terlihat di lingkungan Pengelola Paguyuban Pasar Swadaya Sangiang Jaya, Kecamatan Periuk ,Kota Tangerang.

‎Di bawah kepemimpinan M. Jefry Benyamin,pengelola Pasar Swadaya Sangiang Jaya terus membuka ruang silaturahmi bagi berbagai kalangan, mulai dari aktivis, pimpinan organisasi kemasyarakatan (ormas), lembaga bantuan hukum (LBH), hingga warga sekitar.

‎Seperti hari ini, Dengan kedatangan tamu dari Ketua DPP LBH PMBI yaitu  DR.Darman Sumantri,S.H.,M.H yang didampingi oleh Ketua LBH Provinsi Banten yaitu  ADV. Jumroni, S.H. Dan juga ketua DPAC BPPKB Banten yaitu Kang Sobar.

‎Menariknya, pertemuan tersebut sering kali berlangsung secara spontan tanpa agenda resmi. Berawal dari kunjungan teman atau relasi yang kebetulan mampir, suasana sederhana sambil menikmati kopi justru berkembang menjadi diskusi ringan yang penuh gagasan dan pengalaman.

‎Bukan sekadar tempat singgah untuk minum kopi, pertemuan tersebut menjadi ruang terbuka untuk bertukar informasi, menyampaikan aspirasi, serta berbagi pandangan mengenai perkembangan dan persoalan di lingkungan masing-masing.

 

‎

 

‎M. Jefry Benyamin, selain pengelola pasar dalam berorganisasi beliau juga menjabat sebagai wakil ketua LBH PMBI provinsi banten dan Dewan penasehat bppkb Dpac kecamatan periuk tersebut ,saat ditemui dikantornya ia menyampaikan bahwa kebiasaan menerima tamu dari berbagai kalangan sudah berlangsung sejak lama.

 

‎

 

‎“Diskusi kecil seperti ini sering terjadi tanpa direncanakan. Kebetulan saya sedang berada di kantor, lalu teman-teman juga mampir. Akhirnya, kami ngopi bersama sambil ngobrol dan bertukar pikiran,” ujar Jefry, Rabu (14/10/2026)

 

‎

 

‎Ia menegaskan, pihaknya selalu terbuka menerima siapa pun yang ingin bersilaturahmi, tanpa memandang latar belakang organisasi maupun komunitasnya.

 

‎

 

‎“Bagi kami, siapa pun boleh datang. Kami terbuka untuk teman-teman aktivis, organisasi, LBH, maupun masyarakat umum. Sambil menikmati kopi, kami bisa berdialog, saling memberikan masukan, dan berbagi pengalaman,” tambahnya.

 

‎

 

‎Menurut Jefry, pertemuan informal yang telah berlangsung selama bertahun-tahun itu memberikan banyak manfaat, tidak hanya bagi pengelola pasar, tetapi juga bagi para tamu yang datang.

 

‎

 

‎Beragam pengalaman dan sudut pandang yang dibagikan menjadi kesempatan untuk menambah wawasan, memperluas jaringan pertemanan, sekaligus membangun komunikasi yang positif antar elemen masyarakat.

 

‎

 

‎Semangat kebersamaan tersebut juga sejalan dengan berbagai kegiatan sosial yang dilakukan Paguyuban Pasar Swadaya Sangiang Jaya. Partisipasi dan kontribusi diberikan dalam sejumlah kegiatan warga, baik di lingkungan sekitar pasar maupun di luar kawasan pasar, sesuai dengan kesempatan dan kebutuhan yang ada.

 

‎

 

‎Bagi Jefry, kepedulian terhadap lingkungan tidak selalu harus dimulai melalui kegiatan besar atau pertemuan formal. Terkadang, komunikasi sederhana yang dibangun dengan penuh keakraban justru menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian dan memperkuat kebersamaan.

 

‎

 

‎

 

‎Ada hal menarik dari kebiasaan ngopi sore tersebut. Para tamu tidak harus disambut dengan acara mewah atau hidangan istimewa. Secangkir kopi dan uli bakar pun sudah cukup untuk menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan.

 

‎

 

‎Kesederhanaan itulah yang menjadi nilai tersendiri. Sebab, esensi sebuah pertemuan bukan terletak pada mewahnya hidangan, melainkan pada kesempatan untuk saling mengenal, mendengarkan, dan menghargai pendapat satu sama lain.

 

‎

 

‎Jefry berharap, kebiasaan silaturahmi dan diskusi santai di lingkungan Pengelola Pasar Swadaya Sangiang Jaya dapat terus terjaga serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

 

‎

 

‎“Harapan kami, teman-teman yang datang bisa terus membawa manfaat dan menjaga silaturahmi. Walaupun hanya bertemu sambil menikmati kopi dan uli bakar, mudah-mudahan ada ilmu, pengalaman, dan hal positif yang bisa dibawa pulang,” tuturnya.

 

‎

 

‎Pada akhirnya, ngopi sore bukan hanya soal menikmati minuman, melainkan tentang menjaga hubungan baik, membuka ruang dialog, dan merawat kebersamaan.

 

‎

 

‎Dari meja sederhana di Pasar Swadaya Sangiang Jaya, secangkir kopi menjadi penghubung silaturahmi, sementara obrolan ringan membuka peluang lahirnya gagasan yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat.

 

‎

 

‎


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!