Oknum Kades Tantang Media, Dugaan Kualitas Buruk Proyek P3-TGAI Makin Jadi Sorotan

Share

PATI, JAWA TENGAH – Pembangunan sarana irigasi melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 di Desa Plosojenar, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, menjadi sorotan masyarakat. Proyek yang dikerjakan oleh Kelompok P3A Berkah Tani Plosojenar itu diduga tidak memenuhi spesifikasi teknis dan diduga tidak sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB).

Berdasarkan papan informasi proyek, kegiatan tersebut berada di bawah tanggung jawab Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali–Juana, Kementerian Pekerjaan Umum, dengan nilai anggaran Rp195.000.000 yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026. Masa pelaksanaan proyek tercatat selama 90 hari kalender, mulai 18 Juni hingga 15 September 2026.

Namun, berdasarkan hasil pantauan awak media di lapangan, ditemukan sejumlah kondisi yang diduga tidak sesuai dengan standar teknis pekerjaan konstruksi.

Pada beberapa bagian pasangan batu, plesteran, maupun siar, adukan semen diduga tampak rapuh. Saat disentuh dan dicongkel secara perlahan, sebagian adukan terlihat mudah rontok dan berubah menjadi butiran halus.

Selain itu, ditemukan pula sejumlah rongga pada pasangan batu yang diduga tidak terisi mortar secara merata, sehingga menyisakan celah-celah di dalam konstruksi. Warga juga menyoroti material pasir yang diduga bercampur tanah atau lumpur, kondisi yang dikhawatirkan dapat memengaruhi kualitas, daya rekat, serta ketahanan bangunan dalam jangka panjang.

“Kualitas pengerjaannya sangat memprihatinkan. Plesterannya mudah rontok hanya dengan diraba jari, sementara pasangan batunya banyak yang berongga tanpa spesi adukan. Kalau dibiarkan, bangunan irigasi senilai ratusan juta rupiah ini dikhawatirkan tidak akan bertahan lama dan justru merugikan para petani,” ujar salah seorang warga yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan.

Temuan tersebut memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai kualitas pelaksanaan proyek yang dibiayai menggunakan uang negara. Warga berharap setiap pekerjaan yang bersumber dari APBN dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat, khususnya para petani.

Masyarakat pun mendesak BBWS Pemali-Juana, konsultan pendamping, serta instansi pengawas lainnya untuk segera melakukan pemeriksaan teknis secara menyeluruh terhadap proyek tersebut. Apabila ditemukan adanya pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi maupun RAB, warga meminta agar dilakukan perbaikan sesuai ketentuan yang berlaku sehingga tidak menimbulkan kerugian negara maupun masyarakat.

Saat dikonfirmasi terkait berbagai temuan di lapangan, Oknum kepala Desa Plosojenar memberikan tanggapan singkat.

“Silakan saja di-up beritanya. Saya tidak takut diberitakan,” ujarnya kepada awak media.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut dari Kepala Desa mengenai substansi dugaan ketidaksesuaian kualitas pekerjaan maupun langkah yang akan ditempuh untuk menindaklanjuti berbagai temuan yang disampaikan masyarakat.

Kami juga masih berupaya memperoleh keterangan dari Kelompok P3A Berkah Tani Plosojenar, BBWS Pemali–Juana, serta pihak konsultan pendamping guna memperoleh penjelasan yang berimbang terkait dugaan tersebut.

(Red)


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *