Peringati Hari Reformasi, Poros Baru Tangerang Gelar Nobar Film Pesta Babi, Serukan Penyelamatan Demokrasi

Share

TANGERANG– Dalam rangka memperingati 21 Mei, momentum runtuhnya rezim Orde Baru sekaligus tonggak lahirnya Reformasi 1998, Poros Baru Tangerang menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi di Taman Gajah, Kamis (21/5/2026).

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda pemutaran film, melainkan juga ruang refleksi dan konsolidasi masyarakat sipil untuk membahas kondisi demokrasi Indonesia yang dinilai menghadapi berbagai tantangan. Forum ini menjadi wadah diskusi bagi berbagai elemen masyarakat dalam menyuarakan pentingnya menjaga kebebasan sipil, ruang kritik, serta partisipasi publik dalam kehidupan demokrasi.

Sejumlah kalangan hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari mahasiswa, komunitas pengemudi ojek online, pegiat literasi, hingga masyarakat umum. Mereka bersama-sama merefleksikan perjalanan Reformasi yang telah berlangsung lebih dari dua dekade serta berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa hingga saat ini.

Sekretaris Jenderal Forum Aksi Mahasiswa (FAM), Akbar, mengatakan bahwa pemutaran film Pesta Babi merupakan bagian dari upaya pendidikan politik masyarakat agar tidak melupakan sejarah perjuangan Reformasi dan pentingnya menjaga nilai-nilai demokrasi.

“Film Pesta Babi kami pilih karena mengangkat berbagai persoalan sosial, ketimpangan, relasi kuasa, serta berbagai bentuk ketidakadilan yang masih menjadi perhatian publik. Ini bukan hanya tontonan, tetapi juga bahan refleksi agar masyarakat tetap kritis dan peduli terhadap kondisi demokrasi,” ujar Akbar.

Menurutnya, salah satu tantangan demokrasi saat ini adalah memastikan ruang kritik dan partisipasi publik tetap terbuka sehingga proses pengawasan terhadap kebijakan pemerintah dapat berjalan secara sehat.

“Semangat Reformasi lahir dari perjuangan rakyat untuk memperoleh kebebasan dan demokrasi yang lebih baik. Karena itu, ruang dialog, kritik, dan partisipasi masyarakat harus terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan demokrasi,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Umum Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Tangerang, Aditya Nugraha, menegaskan bahwa peringatan Hari Reformasi tidak boleh berhenti sebagai seremoni tahunan semata, tetapi harus menjadi momentum evaluasi terhadap perjalanan demokrasi di Indonesia.

“Tanggal 21 Mei merupakan pengingat bahwa perjuangan mewujudkan keadilan sosial, pemerintahan yang bersih, serta keberpihakan terhadap kepentingan rakyat masih menjadi pekerjaan bersama. Semangat Reformasi harus terus dirawat oleh seluruh elemen bangsa,” kata Aditya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan kontrol publik, perlindungan kebebasan sipil, serta penyelesaian berbagai persoalan kemanusiaan secara adil dan bermartabat.

Dalam suasana penuh refleksi dan diskusi, para peserta turut membahas peran seni, budaya, film, dan literasi sebagai sarana pendidikan publik. Mereka menilai medium kebudayaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif, memperkuat nilai-nilai demokrasi, serta menjaga ingatan masyarakat terhadap berbagai peristiwa sejarah bangsa.

Kegiatan nobar berlangsung hingga malam hari dan ditutup dengan mimbar bebas yang membahas tantangan demokrasi pasca-Reformasi, pentingnya penghormatan terhadap hak asasi manusia, kebebasan berekspresi, serta penguatan solidaritas masyarakat sipil dalam menjaga kehidupan demokrasi yang sehat.

Di akhir kegiatan, peserta menyampaikan harapan agar semangat Reformasi terus hidup melalui keberanian masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengawal kebijakan publik, serta memperjuangkan keadilan sosial demi terwujudnya demokrasi yang lebih kuat dan berpihak kepada rakyat.

(Red)


Share

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *